METODOLOGI PENELITIAN KUANTITATIF REVIEW ARTIKEL 12-PERTEMUAN 9
METODOLOGI PENELITIAN KUANTITATIF
REVIEW ARTIKEL 12-PERTEMUAN 9
Allysa Hafsah Hafidhah | 250321826598 | Offering A25
Topik : Statistik 2. Korelasi dan Regresi2)
Judul Artikel: Mixed Results From a Multiple Regression Analysis of Supplemental Instruction Courses in Introductory Physics
Penulis : Eric Burkholder, Shima Salehi, dan Carl E. Wieman
(DOI: https://doi.org/10.1371/journal.pone.0249086)
Tahun Terbit : 2021
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas program Supplemental Instruction (SI) pada mata kuliah Fisika Dasar Mekanika (Phys 1) dan Listrik-Magnet (Phys 2) di Stanford University. Tujuan utamanya adalah untuk mengetahui apakah partisipasi mahasiswa dalam kursus tambahan ini berpengaruh positif terhadap performa akademik mereka, khususnya pada nilai ujian akhir, setelah dikontrol berdasarkan kesiapan awal siswa dalam fisika dan matematika. Peneliti juga ingin melihat apakah program SI ini secara khusus memberikan manfaat lebih besar bagi mahasiswa dengan tingkat persiapan yang lebih rendah.
B. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain analisis regresi linear berganda. Data dikumpulkan selama dua tahun (2017–2018) dari mahasiswa yang mengikuti Phys 1A/2A (kursus SI) dan yang tidak. Variabel yang dikontrol mencakup tingkat kesiapan awal siswa, diukur melalui nilai tes konsep (FMCE untuk mekanika, CSEM untuk listrik-magnet), skor SAT/ACT matematika, pengalaman kalkulus sebelumnya, serta nilai ujian akhir Phys 1 (untuk memprediksi hasil di Phys 2). Peneliti menggunakan multiple imputation untuk menangani data yang hilang dan memastikan analisis tidak bias.
C. Hasil Penelitian
Hasil menunjukkan bahwa SI pada Phys 2A memberikan dampak positif yang signifikan terhadap performa mahasiswa, terutama pada tahun 2017, di mana mahasiswa peserta Phys 2A memperoleh skor 0,79 standar deviasi lebih tinggi dibanding yang tidak mengikuti SI. Namun, efek ini tidak konsisten di tahun 2018, di mana pengaruhnya tidak signifikan. Sebaliknya, SI pada Phys 1A tidak menunjukkan peng aruh positif sama sekali, meskipun format pembelajarannya mirip. Artinya, tambahan waktu belajar 100 menit per minggu tidak cukup untuk meningkatkan hasil belajar pada kursus mekanika bagi siswa dengan persiapan rendah.
Temuan ini menunjukkan bahwa efektivitas SI tidak bisa digeneralisasi begitu saja antar mata kuliah atau populasi mahasiswa. SI tampak berhasil jika tingkat kesiapan mahasiswa tidak terlalu bervariasi dan ada keseimbangan antara siswa yang lebih siap dan kurang siap, sehingga pembelajaran kelompok menjadi efektif. Peneliti merekomendasikan agar institusi pendidikan meninjau ulang desain dan pelaksanaan SI, terutama dalam menentukan siapa yang berpartisipasi dan berapa intensitas waktu tambahan yang dibutuhkan. Penelitian lanjutan disarankan untuk menggali lebih dalam tentang mekanisme yang membuat SI efektif atau tidak efektif, serta menguji pengaruh perbedaan tingkat kesiapan siswa terhadap keberhasilan intervensi.
E. Novelty
Kebaruan penelitian ini terletak pada pengujian empiris efektivitas SI dalam konteks pembelajaran fisika, yang sebelumnya jarang dikaji dalam bidang pendidikan fisika, meskipun banyak diterapkan di matematika dan kimia. Studi-studi sebelumnya seperti oleh Stanich et al. (2018) menunjukkan bahwa SI dapat meningkatkan kinerja siswa dalam kimia, sementara Dawson et al. (2014) menyoroti bahwa definisi dan praktik SI sangat bervariasi. Penelitian Burkholder dkk. ini mengisi celah tersebut dengan mengontrol variabel kesiapan akademik siswa secara kuantitatif dan menunjukkan hasil campuran (mixed results). Dengan demikian, novelty-nya ada pada pendekatan analitik yang ketat untuk menilai efektivitas SI secara lebih obyektif dan pada temuan bahwa penambahan waktu belajar tidak selalu berarti peningkatan hasil belajar, terutama ketika kesenjangan kesiapan siswa terlalu besar.
Komentar
Posting Komentar