METODOLOGI PENELITIAN KUANTITATIF REVIEW ARTIKEL 14-PERTEMUAN 11
METODOLOGI PENELITIAN KUANTITATIF
REVIEW ARTIKEL 14-PERTEMUAN 11
Allysa Hafsah Hafidhah | 250321826598 | Offering A25
Topik : Statistik 4. Uji Beda Grup (Uji Prasyarat, T-Test, dan Non Parametrik yang Relevan2)
Judul Artikel: Cluster Permutation Analysis for EEG Series Based on Non-Parametric Wilcoxon–Mann–Whitney Statistical Tests
Penulis : Diego Candia-Rivera dan Gaetano Valenza
(DOI: https://doi.org/10.1016/j.softx.2022.101170)
Tahun Terbit : 2022
B. Metode Penelitian
-
Mask Definition – Membentuk “mask” awal berdasarkan hasil uji statistik univariat untuk setiap titik data (p < α, biasanya 0.05).
-
Cluster Identification – Mengidentifikasi kelompok (cluster) titik data yang saling berdekatan di dimensi waktu, ruang, atau frekuensi.
-
Cluster Statistics dan Permutation Testing – Menggunakan metode Monte Carlo dengan ≥800 permutasi acak untuk menghitung p-value empiris dan menentukan signifikansi efek cluster.
Perangkat lunak ditulis dalam MATLAB dan dapat digunakan tanpa perlu menginstal toolbox Fieldtrip. Dua dataset EEG publik digunakan untuk pengujian:
-
Dataset ERP (Brain Invaders P300) – EEG dari 41 partisipan dengan stimulus visual.
-
Dataset Spektrogram (MAHNOB-HCI) – EEG dari 26 partisipan selama penayangan klip film emosional berdurasi 80 detik.
Analisis dilakukan pada dua versi metode (parametrik dan non-parametrik) untuk melihat perbedaan hasil dan kinerja.
C. Hasil Penelitian
Hasil menunjukkan bahwa uji non-parametrik Wilcoxon menghasilkan deteksi efek yang lebih sensitif dan konsisten dibanding t-test dalam kondisi tertentu:
-
Pada data ERP, kedua metode (Wilcoxon dan t-test) menemukan cluster efek yang serupa, dengan sedikit perbedaan pada waktu latensi (Wilcoxon mendeteksi efek lebih awal).
-
Pada data spektral EEG, t-test gagal mendeteksi cluster efek yang signifikan, sedangkan Wilcoxon berhasil menemukan empat cluster penting.
-
Secara umum, Wilcoxon lebih andal terhadap data yang tidak terdistribusi normal atau memiliki skewness tinggi, sedangkan t-test sensitif terhadap pelanggaran asumsi tersebut.
Penulis menekankan bahwa meskipun hasil keduanya bisa serupa dalam kondisi ideal, metode non-parametrik lebih stabil pada data neurofisiologis nyata, yang sering kali heterogen dan kompleks.
Penelitian ini memiliki implikasi besar di bidang neurosains, psikofisiologi, dan pengembangan biomarker otak, terutama untuk:
-
Analisis data EEG dan ERP dalam penelitian kognitif dan klinis, seperti brain-computer interface atau diagnosis gangguan kesadaran.
-
Peningkatan keandalan inferensi statistik pada data neural yang tidak memenuhi asumsi parametrik.
Peneliti merekomendasikan:
-
Penggunaan metode non-parametrik secara rutin dalam analisis EEG/ERP untuk menghindari kesimpulan salah akibat asumsi distribusi yang keliru.
-
Pengembangan standar interpretasi hasil cluster permutation yang memperhatikan ambang signifikansi dan parameter analisis.
-
Penelitian lanjutan yang menguji performa perangkat lunak ini pada dataset yang lebih besar dan variatif, termasuk data multimodal (EEG-fMRI atau EEG-EMG).
E. Novelty
Kebaruan penelitian ini terletak pada:
-
Pengembangan perangkat lunak pertama yang mengimplementasikan analisis cluster permutation berbasis non-parametrik Wilcoxon–Mann–Whitney untuk data EEG dan ERP.
-
Sebelumnya, metode cluster permutation hampir selalu menggunakan uji parametrik t-test yang mengasumsikan distribusi normal dan variansi sama.
-
Penelitian ini memperkenalkan versi non-parametrik yang tidak memerlukan asumsi tersebut, sekaligus menyediakan kode sumber terbuka (open-source) di GitHub agar dapat digunakan dan dimodifikasi oleh peneliti lain.
-
Dengan demikian, penelitian ini bukan hanya melakukan analisis data, tetapi menyumbang inovasi metodologis berupa alat baru untuk komunitas riset EEG global.
Komentar
Posting Komentar